BAHAYANYA SIFAT KESOMBONGAN
Posted by Aulia The Rock Angel
ONE DAY ONE HADITS
Bahayanya Sifat Kesombongan
من حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
(( لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ))
[ مسلم، الترمذي، أبو داود، ابن ماجه، أحمد ]
Dari Abdullah bin Mas'ud radhialloh anhu berkata, dari Nabi shallallohu alaihi wa salam bersabda:
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah. Ada seseorang yang bertanya, Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ? Beliau menjawab, Sesungguhnya Alloh itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 91, At-Tarmizi, Abu- Daud,Ibnu Majah, Ahmad).
Pelajaran yang terdapat dalam hadits:
1- Hadits ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran. (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam).
2- Dalam hadits di atas disebutkan, bahwa tidak akan masuk surga orang yang ada dalam hatinya sifat sombong, walaupun kesombongannya sebesar dzarrah. Dan sombong yang dimaksud oleh Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas adalah orang yang menolak kebenaran, karena memandang rendah orang yang menyampaikannya. Sehingga keterangan apapun yang di sampaikan kepada mereka akan dipandang sebelah mata.
3- Pakean baru, sandal baru diniatkan untuk ketaatan bukan termasuk kategori kesombongan justru sangat dianjurkan.
4- Kesombongan adalah sifat warisan iblis yang menjadi penghalang orang masuk surga karena menjadi kafir, yang wajib dihindari.
Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:
1- Kesombongan para penentang dakwah rasul
فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ
.
”Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami”. (QS. Hud: 27).
2- Sifat sombong sifat warisan iblis
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ – (البقرة; ٣٤)
.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir”. (Al-Baqarah: 34).
أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
“Iblis berkata, Aku lebih baik dari padanya (Adam), Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah”. (QS. Al-Araf :12)
3- Negri Akhirat bukan tempat orang yang sombong.
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakaan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Qashash: 83)
4- Islam melarang dan mencela Sikap kesombongan
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
5- Alloh benci orang yang menyombongkan diri
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23).Lr
[16:50, 6/20/2018] GC P. Hamzah L15: MASTATHO'TUM...
(Sebuah Kata Yang Penuh Energi Ketakwaan)
Adalah Syaikh DR Abdullah Al Azzam, seorang ulama pejuang yg sangat disegani. Ia yg mampu mengobarkan semangat juang para mujahidin Afghan semasa perjuangan melawan Uni Sovyet.
Suatu hari ia ditanya seorang muridnya, “Ya Syaikh, apakah yg dimaksud dengan mastatho’tum?”
Sang murid menanyakan kata yg terdapat dalam Al Quran, tepatnya di Surat At Taghabun ayat 16, yg berbunyi fattaqullaha mastatho’tum. “Bertakwalah kepada Allah sebatas kemampuanmu”.
Apa yg dimaksud dengan “Sebatas kemampuan” tsb?
Sang Syaikh lalu mengumpulkan dan membawa murid-muridnya ke lapangan. Ia kemudian meminta semua muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan semampu mereka. Tidak ditentukan berapa putaran, hanya diminta berlari saja seusai kemampuan fisik murid-muridnya.
Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid berbeda.
Satu putaran, para murid masih mampu menghela nafas lari. Memasuki putaran kedua, sebagian mulai terlihat kelelahan. Nafas mulai memburu tak karuan. Di putaran ketiga, lebih dari separuh para muridnya mengancungkan tangan tanda menyerah lalu menyingkir ke pinggiran lapangan.
Sebagian kecil masih terus berlari dan di putaran kelima, sudah tidak ada lagi yg sanggup berlari. Menepi kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka.
Setelah semua muridnya menyerah, duduk mengaso di pinggir lapangan. Sang Syaikh tanpa banyak bicara, mulai berlari mengelilingi lapangan. Para murid saling pandang keheranan. Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yg sudah tua itu kepayahan.
Satu putaran, sang syaikh masih berseri-seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran ke-4 sang syaikh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas tersengal-sengal tidak beraturan. Sesekali ia berjalan perlahan, namun beliau tetap berusaha.
Ia terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, melambat lagi, hingga kemudian beliau pun terhuyung tanpa penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Para murid lantas berlarian menghambur ke arah sang syaikh yg terkapar di tanah. Mereka lantas ramai-ramai menggotongnya ke tempat yg lebih teduh dan berusaha memberikan pertolongan seadanya.
Tak lama, setelah beliau siuman dan terbangun, ia disodori minum dan seteguk air segar membasahi kerongkongannya. Baru kemudian, murid lainnya bertanya, “Syaikh, apa yg hendak engkau ajarkan kepada kami ?”
Setelah mengatur nafas, ia lalu berkata “Muridku, inilah yg dinamakan titik mastatho’tum. Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yg menghentikan perjuangan kita,” jawab Sang Syaikh dengan mantap.
* * *
Inilah bentuk ikhtiar tertinggi yg dilakukan seorang hamba untuk memenuhi panggilan Tuhannya. Seseorang melakukan suatu usaha dengan sekuat tenaga dengan kemampuan yg ia miliki sampai titik terendah.
So, Jangan mudah mengambil kesimpulan bahwa di sanalah batas kemampuan kita. Padahal itu hanyalah sebentuk penutupan (execuse) terhadap kelemahan diri. Berjuang sampai titik akhir, itulah yang dikehendaki dari setiap ikhtiar kita.
* * *
Inilah esensi unsur tawakkal, senantiasa terikat dengan sunnatullah...
Inilah buah dari keimanan yg kuat lagi kokoh, yakni ikhtiar yg keras, cerdas dan tak kenal menyerah dalam koridor taqorrub ilallah.
Inilah takwa sepenuh hati..
Takwa sepenuh jiwa dan raga...
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
✊✊✊
Bahayanya Sifat Kesombongan
من حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
(( لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ))
[ مسلم، الترمذي، أبو داود، ابن ماجه، أحمد ]
Dari Abdullah bin Mas'ud radhialloh anhu berkata, dari Nabi shallallohu alaihi wa salam bersabda:
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah. Ada seseorang yang bertanya, Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ? Beliau menjawab, Sesungguhnya Alloh itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 91, At-Tarmizi, Abu- Daud,Ibnu Majah, Ahmad).
Pelajaran yang terdapat dalam hadits:
1- Hadits ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran. (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam).
2- Dalam hadits di atas disebutkan, bahwa tidak akan masuk surga orang yang ada dalam hatinya sifat sombong, walaupun kesombongannya sebesar dzarrah. Dan sombong yang dimaksud oleh Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas adalah orang yang menolak kebenaran, karena memandang rendah orang yang menyampaikannya. Sehingga keterangan apapun yang di sampaikan kepada mereka akan dipandang sebelah mata.
3- Pakean baru, sandal baru diniatkan untuk ketaatan bukan termasuk kategori kesombongan justru sangat dianjurkan.
4- Kesombongan adalah sifat warisan iblis yang menjadi penghalang orang masuk surga karena menjadi kafir, yang wajib dihindari.
Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:
1- Kesombongan para penentang dakwah rasul
فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ
.
”Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami”. (QS. Hud: 27).
2- Sifat sombong sifat warisan iblis
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ – (البقرة; ٣٤)
.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir”. (Al-Baqarah: 34).
أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
“Iblis berkata, Aku lebih baik dari padanya (Adam), Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah”. (QS. Al-Araf :12)
3- Negri Akhirat bukan tempat orang yang sombong.
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakaan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Qashash: 83)
4- Islam melarang dan mencela Sikap kesombongan
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
5- Alloh benci orang yang menyombongkan diri
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23).Lr
[16:50, 6/20/2018] GC P. Hamzah L15: MASTATHO'TUM...
(Sebuah Kata Yang Penuh Energi Ketakwaan)
Adalah Syaikh DR Abdullah Al Azzam, seorang ulama pejuang yg sangat disegani. Ia yg mampu mengobarkan semangat juang para mujahidin Afghan semasa perjuangan melawan Uni Sovyet.
Suatu hari ia ditanya seorang muridnya, “Ya Syaikh, apakah yg dimaksud dengan mastatho’tum?”
Sang murid menanyakan kata yg terdapat dalam Al Quran, tepatnya di Surat At Taghabun ayat 16, yg berbunyi fattaqullaha mastatho’tum. “Bertakwalah kepada Allah sebatas kemampuanmu”.
Apa yg dimaksud dengan “Sebatas kemampuan” tsb?
Sang Syaikh lalu mengumpulkan dan membawa murid-muridnya ke lapangan. Ia kemudian meminta semua muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan semampu mereka. Tidak ditentukan berapa putaran, hanya diminta berlari saja seusai kemampuan fisik murid-muridnya.
Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid berbeda.
Satu putaran, para murid masih mampu menghela nafas lari. Memasuki putaran kedua, sebagian mulai terlihat kelelahan. Nafas mulai memburu tak karuan. Di putaran ketiga, lebih dari separuh para muridnya mengancungkan tangan tanda menyerah lalu menyingkir ke pinggiran lapangan.
Sebagian kecil masih terus berlari dan di putaran kelima, sudah tidak ada lagi yg sanggup berlari. Menepi kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka.
Setelah semua muridnya menyerah, duduk mengaso di pinggir lapangan. Sang Syaikh tanpa banyak bicara, mulai berlari mengelilingi lapangan. Para murid saling pandang keheranan. Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yg sudah tua itu kepayahan.
Satu putaran, sang syaikh masih berseri-seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran ke-4 sang syaikh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas tersengal-sengal tidak beraturan. Sesekali ia berjalan perlahan, namun beliau tetap berusaha.
Ia terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, melambat lagi, hingga kemudian beliau pun terhuyung tanpa penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Para murid lantas berlarian menghambur ke arah sang syaikh yg terkapar di tanah. Mereka lantas ramai-ramai menggotongnya ke tempat yg lebih teduh dan berusaha memberikan pertolongan seadanya.
Tak lama, setelah beliau siuman dan terbangun, ia disodori minum dan seteguk air segar membasahi kerongkongannya. Baru kemudian, murid lainnya bertanya, “Syaikh, apa yg hendak engkau ajarkan kepada kami ?”
Setelah mengatur nafas, ia lalu berkata “Muridku, inilah yg dinamakan titik mastatho’tum. Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yg menghentikan perjuangan kita,” jawab Sang Syaikh dengan mantap.
* * *
Inilah bentuk ikhtiar tertinggi yg dilakukan seorang hamba untuk memenuhi panggilan Tuhannya. Seseorang melakukan suatu usaha dengan sekuat tenaga dengan kemampuan yg ia miliki sampai titik terendah.
So, Jangan mudah mengambil kesimpulan bahwa di sanalah batas kemampuan kita. Padahal itu hanyalah sebentuk penutupan (execuse) terhadap kelemahan diri. Berjuang sampai titik akhir, itulah yang dikehendaki dari setiap ikhtiar kita.
* * *
Inilah esensi unsur tawakkal, senantiasa terikat dengan sunnatullah...
Inilah buah dari keimanan yg kuat lagi kokoh, yakni ikhtiar yg keras, cerdas dan tak kenal menyerah dalam koridor taqorrub ilallah.
Inilah takwa sepenuh hati..
Takwa sepenuh jiwa dan raga...
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
✊✊✊
0 comments: